Showing posts with label public health. Show all posts
Showing posts with label public health. Show all posts

Tuesday, November 1, 2011

Ester Tugando: Merasa Terinfeksi Schistosomiasis


Ibu Ester Tugando mengaku sudah minum obat dua kali. Yang pertama di tahun 2010 dan yang kedua di tahun 2011. Dari hasil wawancara, memberikan informasi bahwa mengetahui schistosomiasis dari pegawai kesehatan yaitu dari sosialisasi-sosialisasi yang dilakukan. Penderita mengakui dinyatakan positif terinfeksi schistosomiasis oleh pihak kesehatan setelah melakukan pemeriksaan tinja. Setelah itu, tidak ada lagi dilakukan pemeriksaan tinja, namun dia diberikan obat yang diminum enam bulan sekali. Sejauh ini sudah dua kali penderita tersebut meminum obat yang diberikan oleh pihak kesehatan.
Daru keterangan yang ada, anggota keluarga yang lain tidak terinfeksi seperti ibu tersebut. Bahkan suaminya dinyatakan tidak terinfeksi. Padahal mereka bekerja di tempat yang sama dan sangat sering terjadi kontak secara langsung. Di duga, kemungkinan besar ibu tersebut terinfeksi saat berusia muda. Waktu itu, dia tinggal bersama tantenya di daerah Napu, yang sekarang dinyatakan menjadi salah satu titik fokus penyebaran schistosomiasis.
Informasi yang berbeda diperoleh dari Kepala Puskesmas Lore Barat, yang menyatakan bahwa selama ini para penderita tidak diberi tahu bahwa mereka terinfeksi cacing tersebut. Hal ini bertujuan agar tidak terjadi diskriminasi terhadap mereka. Akan tetapi, menurut Ibu Ester, selama ini dia gampang lelah dan merasakan sakit di bagian dada. Pada saat setelah meminum obat dia jatuh pinsan dan sempat demam selama tiga hari. 
Dari hasil wawancara kepada warga-warga lain, mereka menyimpulkan bahwa jatuh pinsannya seseorang setelah meminum obat, berarti mereka menderita schisto. Padahal menurut Kepala Puskemas, bisa saja jatuh pinsanya seseorang tersebut dikarenakan saat itu kondisi tubuhnya lagi lemah. Jatuh pisan tidak dapat menjadi vonis terhadap seseorang menderita schisto atau tidak. Untuk dapat memastikan seseorang terinfeksi ialah dengan melakukan tes tinja.

Thursday, October 27, 2011

Ancaman Schistosomiasis terhadap Masyarakat Bada

Schistosomiasis atau disebut juga demam keong merupakan penyakit parasitik yang disebabkan oleh infeksi cacing yang tergolong dalam genus Schistosoma. Ada tiga spesies Schistosoma yang ditemukan pada manusia, yaitu: Schistosoma japonicum, S. haematobium dan S. mansoni.
Dari penelitian yang dilakukan oleh Rosmini, Soeyoko, dan Sri Sumarni, di Indonesia schistosomiasis disebabkan oleh Schistosoma japonicum ditemukan endemic di dua daerah di Sulawesi Tengah, yaitu di Dataran Tinggi Lindu dan Dataran Tinggi Napu. Secara keseluruhan penduduk yang berisiko tertular schistosomiasis (population of risk) sebanyak 15.000 orang2. Penelitian schistosomiasis di Indonesia telah dimulai pada tahun 1940 yaitu sesudah ditemukannya kasus schistosomiasis di Tomado, Dataran Tinggi Lindu, Kecamatan Kulawi, Kabupaten Sigibiromaru, Sulawesi Tengah pada tahun 1935. Pada tahun 1940 Sandground dan Bonne mendapatkan 53% dari 176 penduduk yang diperiksa tinjanya positif ditemukan telur cacing Schistosoma.

Pemberantasan schistosomiasis telah dilakukan sejak tahun 1974 dengan berbagai metoda yaitu pengobatan penderita dengan Niridazole dan pemberantasan siput penular (O. hupensis lindoensis) dengan molusisida dan agroengineering. Kegiatan pemberantasan schistosomiasis secara intensif dimulai pada tahun 1982. Pemberantasan pada awalnya dititikberatkan pada kegiatan penanganan terhadap manusianya yaitu pengobatan penduduk secara masal yang ditunjang dengan kegiatan penyuluhan, pengadaan sarana kesehatan lingkungan, pemeriksaan tinja penduduk, pemeriksaan keong penular dan tikus secara berkala dan rutin. Hasil pemberantasan tersebut mampu menurunkan prevalensi schistosomiasis.
Perjalanan kali ini menuju Bada bertujuan untuk mengetahui peran lembaga-lembaga di masyarakat terhadap penanganan infeksi schisto. Karena selama ini, penanganan masalah infeksi cacing tersebut hanya melalui pengobatan. Lembaga-lembaga sosial yang ada kurang dimanfaatkan dengan baik. Bada sendiri merupakan wilayah lembah yang terletak di wilayah Kabupaten Poso. Wilayah yang terdiri dari Kecamatan Lore Barat, Kecamatan Lore Selatan dan Kecamatan Lore Tengah ini merupakan daerah pegunungan cukup dingin. Keadaan tersebutlah yang menjadi pendukung berkembangnya schisto.
Masyarakat yang awam terhadap schisto, memberikan fakta bahwa begitu berbahanya siput tersebut begi mereka. Selama ini sosialisasi mengenai schisto sudah sangat dilakukan. Akan tetapi dari hasil wawancara yang kami lakukan, mereka belum tau betul akan cacing tersebut.
Schistosomiasis sendiri merupakan hewan yang menginfeksi manusia melalui kulit. Dalam hal  ini, cacing tersebut akan masuk ke dalam pori-pori kulit. Bersama aliran darah, cacing tersebut menuju jantung dan hati. Di hati manusialah cacing itu hidup dan berkembang, sampai membuat si penderita kurus, lemah, dan akhirnya meninggal. 
Saat seseorang terinfeksi oleh schisto, maka kemungkinan besar penduduk lain terinfeksi juga besar. Caranya bagaimana? Mari kita lihat, saat seseorang positif terinfeksi, maka cacing tersebut hidup dan mengerogoti tibuh  si penderita. Saat si penderita membuang kotoran (vases), maka telur dan cacing tersebut berada di dalam vases si penderita. Kehidupan masyarakat yang belum menerapkan sanitasi pembuangan yang baik, dapat mendukung penularan cacing tersebut. Tanpa sadar, seseorang menginjak kotoran tersebut, maka orang itu sudah bisa dipastikan akan terinfeksi. Belum lagi, banyak masyarakat yang buang hajat di sungai. Sementara sungai sangat umum digunakan untuk mandi dan mencuci oleh masyarakat desa. Maka, akan semakin besar kemungkinan masyarakat tertular cacing tersebut.
Tidak hanya itu, dari binatang juga dapat menyebabkan manusia tertular. Binatang yang terinfeksi schisto, jika buang kotoran dan kotoran itu terinjak oleh masyarakat tanpa menggunakan alas kaki, maka kemungkinan besar masyarakat itu akan terinfeksi. Dari pengamatan, bahwa masyarakat Bada yang didominasi oleh umat kristiani memelihara babi di rumah mereka. Babi-babi peliharaan tersebut dibiarkan berkeliaran begitu saja. Dan sudah bisa dibayangkan apa yang akan terjadi jika babi-babi tersebut terlah memiliki schisto di tubuhnya.