Saturday, November 19, 2011

Togean Dan Geliat Pariwisata Sulawesi Tengah


Pariwisata menjadi satu hal yang dapat mengembangkan suatu daerah jika dikelola dengan baik. Banyak daerah di Indonesia yang maju berkat pariwisatanya. Keindahan alam dan pesona budaya dikemas kedalam suatu bentuk sajian yang menarik yang mampu memikat para wisatawan lakol maupun macanegara. 
Sulawesi Tengah merupakan salah satu provinsi yang terletak di pulau sulawesi merupakan salah sutu derah yang memiliki keindahan alam yang unik dan tidak dapat dijumpai di daerah lain. Selain bentang alam yang menarik, provinsi ini juga memiliki keeneka ragaman flora dan fauna yang hanya terdapat di Sulteng. Sebut saja burung maleo, babi rusa, dan monyet mini (tarsius).


 Seperti yang diketahui bahwa sulteng memiliki sejumlah objek wisata yang menarik. salah satu objek wisata yang saat ini mendapatkan kunjungan wisatawan baik lokal maupun macanegara ialah Pulau Togean. Dari data kunjungan wisatawan se-sulawesi tengah tahun 2009/2010,  menunjukan bahwa ditahun 2009 togean dikunjungi oleh kurang lebih 13,760 wisatawan nusantara dan 2,735 wisatawan macanegara. Sedangkan ditahun 2010 wisatawan nusantara meningkat menjadi 123,000 orang dan wisatawan mancanegara menjadi 3,535 orang. Data tersebut menunjukan bahwa terjadi peningkatan wisatawan yang luar biasa terutama untuk wisatawan nusantara. 


  Hal di atas, tidak menuntut kemungkin akan semakin meingkat jika dinas pariwsata sulteng secara terus menerus melakukan promisi baik secara nasional maupan internasional. Sebab, dari hasil wawancara Dra. Ulfa Nilawati, M.Si, yang merupakan Kepala Seksi exhibition dan Publication, menuturkan bahwa selama ini dinas pariwisata selalu melakuka promosi mengenai objek wisata yang dimilikinya. Salah satu teknik promosi yang diterapkan ialah dengan aktif mengikuti berbagai event kebudayaan yang ada. Dalam bulan mei saja, akan mengikuti sekurangnya dua event besar tingkat nasional yakni Festival Majapahit yang dilaksanakan pada tanggal 16 -19 di Surabaya, dan Gebyar Wisata Nusantara yang akan dilaksanakan pada tanggal 26 -29 di Jakarata. Kemudian untuk tingkat Sulawesi pada bulan juni akan diselenggarakan kegiatan Kemilau Sulawesi yang akan dilaksanakan di Sulawesi Barat.
Selain, mengikuti berbagai event tingkat nasional, sulteng sendiri memiliki event lokal yang menurut Ulfa tidak kalah menariknya. Seperti festival togean, festival danau poso, festival teluk palu, dan masih banyak lagi. Hal ini menujukan bahwa saat ini sulteng berusaha bangkit memalui dunia pariwisata. Walaupun butuh waktu dan biaya yang tidak sidikit, tutur wanita berjilbab tersebut.

Monday, November 14, 2011

Dadendate: Nyanyian Tanah Kaili Yang Terancam

Dadendate merupakan kesenian asli masyarakat Desa Taripa (Etnis Kaili dialek Rai). Dadendate sendiri terdiri dari dua kata yaitu ”dade” dan “ndate”. Di mana, dade berarti lagu, sedangkan ndate dalam pengertian bahasa Kori seperti berikut ini: Misalkan seseorang berada di kaki bukit atau gunung. Ketika ditanyakan hendak kemana, maka bila dijawab Ndate berarti di atas bukit sana atau ia akan melakukan perjalanan dengan menaiki atau mendaki bukit itu sampai tujuan. Jadi Dadendate artinya lagu yang mengisahkan suatu dari bawah ke atas. Apa yang diuraikan (diceritakan) dalam syair lagu Dadendate sifatnya menanjak dan menuju ke puncak. Bila dia menceritakan sesuatu, selalu dari awal sampai akhir cerita tersebut.

Dadendate merupakan bagian dari kesenian tradisional. Kesenian dalam pengertian sehari-hari berhubungan dengan produk nilai keindahan (estetika) dari umat manusia yang meliputi seni sastra, seni rupa, seni pertunjukan, dan seni rekam berupa produk teknologi mutakhir seperti film dan televisi. Namun dalam pengertian yang lebih luas kesenian juga mencakup segala produk kebudayaan sebagai hasil dari peradaban manusia. Dengan melihat pengertian kesenian tersebut, maka sejarah kesenian manusia Indonesia tentu memiliki akar dan riwayat tersendiri yang dapat dipandang sebagai bagian dari sejarah kesenian tradisional dengan argumentasi yang bertolak dari asal usul manusia Indonesia itu sendiri.

Berdasarkan penjelasan di atas, maka Dadendate merupakan kesenian tradisional masyarakat etnis Kaili yang memiliki akar dan riwayat tersendiri. Dari data yang kami peroleh, sejarah Dadendate, berawal dari Kimba a yang masih berupa doa-doa/syair-syair ritual orang tua dulu, di mana berbentuk uraian dan masih bersifat individual. Kemudian dalam kurun waktu yang cukup jauh berubah lagi menjadi Dulua. Dibanding Kimba a, Dulua sudah berbentuk lagu/nyanyian seperti Nopalongga (nyanyian menidurkan anak yang dilagukan ibunya dimana terkandung doa dan keselamatan yang ditujukan kepada wajah sang anak yang sedang berlayar mencari ikan). Kimba a dan Dulua belum menggunakan alat kecapi, masih berbentuk musik vokal semata. Dari Dulua, bentuk kesenian ini berubah lagi menjadi Bola-Bola.

Perubahan yang menonjol adalah syair yang dibawakan tidak lagi berupa syair ritual, tetapi sudah menjadi syair yang lebih bersifat umum, seperti syair muda-mudi dalam acara memetik padi dan telah menggunakan kecapi. Tepatnya ketika orang mengambil waktu untuk istirahat. Kecapi digunakan sebagai pengantar dan perantara syair-syair yang digunakan (biasanya antara dua kelompok muda-mudi yang menggunakan sebagai lagu sebagai sarana komunikasi). Bola-bola dimulai oleh solo vokal dan diikuti lainya. Ketiga bentuk kesenian ini masih bahasa Kori, induk dari bahasa Kaili Rai dan Bare’e.

Rampamole (pengenduran senor/tuning) adalah bentuk selanjutnya dari kesenian ini. Mulai dari Rampamole dan seterusnya sudah menggunakan bahasa Rai. Pada fase ini telah menggunakan kecapi bersamaan dengan nyanyian yang hampir mendekati Dadendate. Rampamole sendiri berarti dikendurkan, atau  diperkecil suaranya. Tidak terlalu lama dalam fase ini berubah lagi menjadi ciri-ciri yang ciri utamanya menjadi lebih panjang. Pada fase ini, kesenian ini juga menyebar ke wilayah-wilayah lain sampai ke Toli-Toli (salah satu kabupaten di Sulawesi Tengah). Pada kenyataannya, saat zamannya kesenian ini amat disukai oleh para muda-mudi.

Kurang lebih sekitar tahun 1952-1953 berubah menjadi Dadendate. Inilah bentuk terakhir dari kesenian ini. Kesenian ini merupakan kesenian khas dari daerah Sindue yang sekaligus kebanggaan mereka. Mereka berpendapat bahwa keseniaan ini hanya terdapat di Desa Taripa Kecamatan Sindue dan tidak ada di daerah lain. Kalaupun ada, masih di wilayah Provinsi Sulawesi Tengah, dan itu berasal dari Desa Taripa yang dikembangkan di daerah lain.

Dadendate sendiri merupakan seni tradisonal yang memadukan teknik bertutur atau bercerita dalam bahasa Kaili (dialek Rai) yang syarat dengan  keindahan nilai sastranya, dengan diiringi instrumen tradisional, asli masyarakat Kaili. Instrumen tersebut hanya terdiri dari dua alat musik yaitu mbasi-mbasi dan kecapi. Mbasi-mbasi merupakan alat musik tiup yang terbuat dari bambu dan rotan dengan panjang kurang lebih 20 cm. Alat musik ini memiliki ciri khas yang unik, dan perlu menggunakan teknik tertentu dalam memainkannya. Sedangkan kecapi yang dimaksud ialah alat musik petik yang hanya memiliki dua tali senar yang terbuat dari kayu Lengo atau Balaroa. Sedang senarnya dulunya menggunakan tali enau, namun sekarang banyak yang menggunakan kawat kecil yang terbuat dari baja atau tali labrang rem sepeda. Bentuk dari kecapi ini syarat dengan nilai sejarah. Bentuknya yang mirip kapal, diartikan sebagai representasi dari kapal milik legenda Sawerigading, (nenek moyang masyarakat Kaili yang sampai di tanah Kaili dengan menggunakan kapal).

Keunikan dari Dadendate ialah syair dalam kesenian ini dilantunkan secara spontan, tanpa menggunakan teks atau dikonsep terlebih dahulu. Kesenian ini bisa berlangsung cepat, dan bisa berlangsung sampai berhari-hari tergantung permintaan. Keseniaan ini dilaksanakan dalam acara-acara adat, syukuran, dsb. Dalam acara syukuran, dadendate sering tampil dalam acara syukuran atas rumah baru, seseorang yang telah menyelesaikan pendidikannya di perguruan tinggi, hasil panen yang melimpah, dan sebagainya.

Kesenian ini memiliki pemain, minimal tiga orang dan maksimalnya tidak terbatas. Jika di mainkan oleh tiga orang, maka dua orang menjadi pelantun syair-syair, di mana salah seorang dari pelantun tersebut sambil bermain kecapi. Sedangkan satu orangnya lagi menggunakan alat musik mbasi-mbasi. Dari hasil wawancara yang kami lakukan, kelompok kesenian dadebdate tersebut terdiri dari 6 orang, akan tetapi yang sering tampil yaitu 4 orang. Dua pelantun, satu pemain kecap, dan satunya lagi peniup mbasi-mbasi. Namun pada dasarnya harus ada dua orang pelantun, dan yang memainkan alat musik tradisional kecapi dan mbasi-mbasi.

Para pemain tersebut terdiri dari laki-laki dan perempuan. Perempuan selalu menjadi bagian pelantun syair-syair, namun tidak menuntut kemungkinan sambil bermain kecapi. Para pelantun tersebut berbagi peran, ada yang melontarkan pertanyaan dan ada yang menjawab pertanyaan. Sahut-sahutan sampai semuanya terceritakan dalam kesenian ini, maka tidak menuntut kemungkinan sampai berhari-hari. Jika dadendate di undang dalam acara syukuran atas selesainya seseorang dari perguruan Tinggi atau universitas, maka orang tersebut diceritakan dari awal menempuh pendidikan sampai meraih gelar sarjana. Apa halangan dan rintangan, prestasi, dan segala hal yang berkaitan dengan hal itu, bahkan termasuk dana yang dihabiskan selama menjalani pendidikan. Tak jarang orang-orang yang hadir dalam acara tersebut juga ikut diceritakan dalam kesenian ini.

Kesenian yang sangat indah ini, merupakan kesenian yang tidak mudah untuk dilakukan. Para pelantun harus bisa menceritakan dengan baik secara spontan suatu masalah atau peritiwa. Pemilihan katanya juga tidak sembarangan, menggunakan kata-kata dalam bahasa Kaili yang memiliki nilai sastra yang tinggi atau kata-kata dengan makna yang halus. Cara memainkan alat musik kecapi pun tidak semudah yang kita bayangkan. Apalagi untuk alat musik mbasi-mbasi, perlu teknik khusus dalam memainkannya. Sebab alat musik ini harus ditiup terus menerus tanpa terputus. Maka teknik mengambil nafas menjadi kunci utamanya.

Saat ini yang menjadi pelaku kesenian dadendate ialah Usman La Djaja (adalah seorang peniup mbasi-mbasi) dan kawan-kawan. Di mana, untuk tingkat lokal, ia dan kawan-kawanya, sudah tidak dapat lagi menghitung berapa kali telah melakukan pertunjukan. Karena telah sering di undang dalam berbagai event kebudayaan yang diselenggarakan Pemerintah Daerah Sulawesi Tengah maupun Pemerintah Kabupaten Donggala. Untuk tingkat nasional, mereka telah melakukan pertunjukan di beberapa kota besar di Indonesia. Seperti di tahun 1999 pernah melakukan pertunjukan di Taman Ismail Marzuki, Jakarta. Di tahun 2000 melakukan pertunjukan di Jogjakarta, tahun 2006 di manado, dan baru-baru ini tahun 2009 di Lampung.

Namun, miris jika melihat relaitas yang akan terjadi pada kesenian ini. Kesenian yang telah diwariskan dari generasi kegenerasi, hingga bisa bertahan sampai sekarang, mulai terancam keberadaannya. Genarasi yang sekarang, bisa dikatakan telah sukses membawa kesenaan ini kepuncak ketenaran. Mereka telah berhasil membuat kesenian ini dikenal di daerah lain. Sudah beberapa kali mereka telah melakukan pertunjukan di daerah lain. Tentu saja hal tersebut menunjukan perjuangan para orang-orang tua terdahulu tidak sia-sia. Bahkan saat ini mereka tersenyum, namun hanya untuk sesaat. Senyum itu akan segara hilang, saat mendengarkan pernyataan generasi muda di Desa Taripa yang menyatakan ”malu menjadi bagian dari kesenian indah ini. Mereka lebih senang bernyayi di deker dengan, menggunakan gitar sampai tengah malam” tutur Usman Lajaja saat kami temui dirumahnya. Hal tesebut tebukti saat kami menanyai beberapa orang pemuda di Desa Taripa. Mereka menyatakan tidak tahu bagaimana kesenian dadendate. Dalam hal ini memainkan alat musik dan melantunkan syair-syair.

Tidak hanya itu, penyebab kesenian ini mulai terancam juga dari pemerintah daerah yang terkesan tidak peduli. Seperti yang diberitakan pada salah satu surat kabar lokal di kota Palu, yang menulis: ”Dadendate Terancam Punah, Pemerintah Kurang Perhatian” (Media Alkhairaat/14-10-2009). Di mana hingga saat ini belum ada pembinaan yang dilakukan terhadap generasi muda di Desa Taripa mengenai kesenian dadendate. Pemerintah seakan tidak peduli dengan kelestarian kesenian ini. Belum lagi, dari pengamatan langsung yang kami lakukan, bahwa desa tersebut telah berubah menjadi desa global. Di mana media massa (televisi) telah merajalela. Parabola-parabola telah terpasang di rumah-rumah penduduk. Walaupun kami belum melakukan survei terhadap pilihan program siaran, namun kami yakin masyarakat desa pada umumnya lebih memilih program televisi seperti sinetron, infoteimen, dan sejenisnya.

Efeknya, tentu saja televisi berpengaruh terhadap kehidupan sosial masyarakat. Di mana masyarakat (generasi muda) menerima kebudayaan-kebudayaan baru yang berbeda dari kebudayaan tradisional miliki desa tersebut. Dan celakanya generasi muda tidak dapat memfilter kebudayaan tersebut, sehingga kecenderungan untuk meniru tidak dapat dicegah. Efek nyata yang bisa dilihat ialah, tidak adanya generasi muda yang peduli terhadap kesenian dadendate. Dengan demikian cepat atau lambat, tapi pasti kesenian ini akan hilang. Maka, ”Dadendate: Nyanyian Tanah Kaili Yang Terancam” benar adanya.

Sunday, November 13, 2011

Yasal Impian Itu Ada Di Lembah Palu


Yayasan Al-Kautsar atau yang disingkat Yasal, merupakan yayasan yang didirikan pada tanggal 1 Januari 2003. Yayasan pada awalnya diperuntukan bagi kaum duafa (anak yatim piatu dan kurang mampu), kemudian di tahun 2006, dengan kerja keras akhirnya membuka dan menyediakan tempat tinggal bagi kaum manula. Yasal didirikan sesuai dengan tanggal lahir dari pendirinya yakni Sabrin O. Ladongi dan memiliki visi yakni menciptakan santri yang berkualitas dan mandiri, dan menjadikan lansia yang berguna di hari tua. Berguna dihari tua dalam arti, lansia lebih aktif dalam kegiatan-kegiatan sosial dan kegiatan-kegiatan seni dan budaya. Hal tersebut sesuai dengan salah satu misinya yaitu menciptakan lansia yang bermanfaat bagi masyarakat dan lingkungan.
Yasal memiliki kaum manula yaitu sebanyak 10 orang. Para manula tersebut mendapatkan pelayanan yang sangat baik antara lain kesehatan, konsultasi, hiburan, tempat tidur yang nyaman, dan sebagainya. Sementara untuk manula yang non panti, terdiri dari kurang lebih 193 orang baik itu di kota maupun di kabupaten. Pelayanan yang diberikan terhadap lansia non panti ialah pemberian sembako, pembinaan agama, penyuluhan hidup sehat dan pemerikasaan kesehatan setiap bulan, pembinaan seni dan budaya, dan masih banyak lagi kegiatan lainnya. Bahkan Yasal sering melakukan kegiatan piknik bersama dihari-hari tertentu, salah satunya hari berdirinya Yasal.
Dari sisi sarana dan prasarana Yasal dilengkapi oleh ruang sekretariatan, ruang kantor, ruang kesehatan, ruang refresing, ruang karaoke lansia, ruang posbindu, day care service, ruang LK3 (Lembaga Konsultasi Kesejahteraan Keluarga), ruang makan, ruang kebersamaan, sarana olah raga, dan perpustakaan. Semuanya sarana dan prasana tersebut tergolong baik dan cukup memadai.
Selanjutnya, Yasal berupaya agar kedepannya dapat medirikan sekolah bagi anak panti asuhan. Karena selama ini, anak panti asuhan bersekolah disekolah yang ada di luar panti. Setiap harinya diantar dan dijemput dengan menggunakan mobil angkot milik Yasal. Selain itu, Yasal terus berupaya meningkatkan mutu dari pengurus yayasan. Hal ini bertujuan agar pengurus dapat memberikan pelayanan yang maksimal terhadap para manula baik yang tinggal di panti maupun non panti.
Dibalik itu semua, Yasal mengalami hambatan berupa masih minimnya sarana dan prasana yang menunjang dalam pelayanan. Apalagi selama ini, untuk manula yang tinggal di panti untuk perawatanya sehari-hari seperti makan, minum, BAB, dan lain sebagainya masih diserahkan kepada manula yang lebih kuat yang tinggal di panti serta pengasuh yang jumlahnya terbatas. Dalam hal ini, Yasal belum mampu membayar atau menyediakan tenaga pengasuh yang khusus mengurusi hal-hal tersebut. sementara pengasuh yang ada pada dasarnya mengurusi masalah dapur.
 Ustad Sabrin (Saol) sendiri sejauh ini masih sendiri. Salah satu alasannya ialah karena berusaha mencari pasangan hidup yang se-visi dan se-misi dengan dirinya. Dalam hal ini, mencari pasangan yang mau berbagi kasih dengan kaum manula dan anak yatim piatu.
Saat kami berkunjung ke Yasal, Ustad Saol menyambut kami dikediamannya yang  merupakan rumah yang terpisah dari gedung Yasal. Jika dilihat, rumah tersebut sangat sederhana. Berdinding papan dan beratapkan daun rumbia. Saat kami tanyakan mengapa memilih tinggal di rumah tersebut, Ustad menjawab bahwa semua sumbangan atau rezeki yang dia dapatkan bukan miliknya. Masyarakat bersedehkah dan pemerintah memberikan bantuan semuannya diperuntukan bagi kaum manula dan anak panti asuhannya. Jadi, dia merasa hal itu bukan haknya. Sehingga dia lebih memilih tinggal di rumah sederhana tersebut.

Tuesday, November 1, 2011

Ester Tugando: Merasa Terinfeksi Schistosomiasis


Ibu Ester Tugando mengaku sudah minum obat dua kali. Yang pertama di tahun 2010 dan yang kedua di tahun 2011. Dari hasil wawancara, memberikan informasi bahwa mengetahui schistosomiasis dari pegawai kesehatan yaitu dari sosialisasi-sosialisasi yang dilakukan. Penderita mengakui dinyatakan positif terinfeksi schistosomiasis oleh pihak kesehatan setelah melakukan pemeriksaan tinja. Setelah itu, tidak ada lagi dilakukan pemeriksaan tinja, namun dia diberikan obat yang diminum enam bulan sekali. Sejauh ini sudah dua kali penderita tersebut meminum obat yang diberikan oleh pihak kesehatan.
Daru keterangan yang ada, anggota keluarga yang lain tidak terinfeksi seperti ibu tersebut. Bahkan suaminya dinyatakan tidak terinfeksi. Padahal mereka bekerja di tempat yang sama dan sangat sering terjadi kontak secara langsung. Di duga, kemungkinan besar ibu tersebut terinfeksi saat berusia muda. Waktu itu, dia tinggal bersama tantenya di daerah Napu, yang sekarang dinyatakan menjadi salah satu titik fokus penyebaran schistosomiasis.
Informasi yang berbeda diperoleh dari Kepala Puskesmas Lore Barat, yang menyatakan bahwa selama ini para penderita tidak diberi tahu bahwa mereka terinfeksi cacing tersebut. Hal ini bertujuan agar tidak terjadi diskriminasi terhadap mereka. Akan tetapi, menurut Ibu Ester, selama ini dia gampang lelah dan merasakan sakit di bagian dada. Pada saat setelah meminum obat dia jatuh pinsan dan sempat demam selama tiga hari. 
Dari hasil wawancara kepada warga-warga lain, mereka menyimpulkan bahwa jatuh pinsannya seseorang setelah meminum obat, berarti mereka menderita schisto. Padahal menurut Kepala Puskemas, bisa saja jatuh pinsanya seseorang tersebut dikarenakan saat itu kondisi tubuhnya lagi lemah. Jatuh pisan tidak dapat menjadi vonis terhadap seseorang menderita schisto atau tidak. Untuk dapat memastikan seseorang terinfeksi ialah dengan melakukan tes tinja.

Friday, October 28, 2011

Sepatu Boot: Pilihan Mencegah Penularan Schistosomiasis

Shcistosomiasi tidak dapat dianggap remah. Harus mendapatkan perhatian khusus dari masyarakat dan juga pemerintah serta seluruh pihak. Salah satu langkah tepat dalam mencegah penularan schisto ialah dengan menggunakan sepatu boot.
Seseorang yang menggunakan sepatu boot sudah bisa dipastikan terlindungi dari cacing tersebut. Cacing berbahaya itu, tidak akan bisa masuk ke dalam pori-pori atau kulit kaki. Sehingga akan lebih aman bagi seseorang untuk beraktifitas di tempat-tempat berbahaya atau lembab, khususnya bagi petani yang ada di Bada.
Selain menggunakan sepatu boot, cara mengantisipasi penyebaran schisto ialah dengan melakukan pembabatan di titik-titik spot cacing itu berkembang biak. Dengan melakukan pembabatan, diharapkan tempat tersebut akan mendapatkan sinar matahari yang banyak. Sehingga, dapat mengurangi kelembapan tempat tersebut. Dalam hal ini cacing schisto, tidak mampu bertahan hidup di daerah atau tempat yang terkena sinar matahari yang banyak.
Namun, kenyataannya penggunaan sepatu boot dan pembabatan masih jarang dilakukan secara baik oleh masyarakat. Khususnya untuk penggunaan sepatu boot, masyarakat lebih memilih untuk tidak menggunakannya saat beraktifitas di sawah atau dikebun mereka. Belum lagi permohonan sepatu boot kepada pemerintah hingga saat ini belum ada realisasinya. Keterangan ini diperoleh dari hasil wawancara dengan sejumlah warga.
Selain kedua hal tersebut, saat ini juga dilakukan pengobatan masal terhadap masyarakat Lore Barat (Bada). Pengobatan tersebut dilakukan enam bulan sekali. Sejauh ini, sudah dua kali dilakukan pengobatan dan pada bulan Desember 2011 akan dilakukan kembali pengobatan masal sekaligus pemeriksaan tinja. Hal ini bertujuan untuk memperoleh data terbaru mengenai perkembangan infeksi cacing tersebut terhadap masyarakat.

Thursday, October 27, 2011

Ancaman Schistosomiasis terhadap Masyarakat Bada

Schistosomiasis atau disebut juga demam keong merupakan penyakit parasitik yang disebabkan oleh infeksi cacing yang tergolong dalam genus Schistosoma. Ada tiga spesies Schistosoma yang ditemukan pada manusia, yaitu: Schistosoma japonicum, S. haematobium dan S. mansoni.
Dari penelitian yang dilakukan oleh Rosmini, Soeyoko, dan Sri Sumarni, di Indonesia schistosomiasis disebabkan oleh Schistosoma japonicum ditemukan endemic di dua daerah di Sulawesi Tengah, yaitu di Dataran Tinggi Lindu dan Dataran Tinggi Napu. Secara keseluruhan penduduk yang berisiko tertular schistosomiasis (population of risk) sebanyak 15.000 orang2. Penelitian schistosomiasis di Indonesia telah dimulai pada tahun 1940 yaitu sesudah ditemukannya kasus schistosomiasis di Tomado, Dataran Tinggi Lindu, Kecamatan Kulawi, Kabupaten Sigibiromaru, Sulawesi Tengah pada tahun 1935. Pada tahun 1940 Sandground dan Bonne mendapatkan 53% dari 176 penduduk yang diperiksa tinjanya positif ditemukan telur cacing Schistosoma.

Pemberantasan schistosomiasis telah dilakukan sejak tahun 1974 dengan berbagai metoda yaitu pengobatan penderita dengan Niridazole dan pemberantasan siput penular (O. hupensis lindoensis) dengan molusisida dan agroengineering. Kegiatan pemberantasan schistosomiasis secara intensif dimulai pada tahun 1982. Pemberantasan pada awalnya dititikberatkan pada kegiatan penanganan terhadap manusianya yaitu pengobatan penduduk secara masal yang ditunjang dengan kegiatan penyuluhan, pengadaan sarana kesehatan lingkungan, pemeriksaan tinja penduduk, pemeriksaan keong penular dan tikus secara berkala dan rutin. Hasil pemberantasan tersebut mampu menurunkan prevalensi schistosomiasis.
Perjalanan kali ini menuju Bada bertujuan untuk mengetahui peran lembaga-lembaga di masyarakat terhadap penanganan infeksi schisto. Karena selama ini, penanganan masalah infeksi cacing tersebut hanya melalui pengobatan. Lembaga-lembaga sosial yang ada kurang dimanfaatkan dengan baik. Bada sendiri merupakan wilayah lembah yang terletak di wilayah Kabupaten Poso. Wilayah yang terdiri dari Kecamatan Lore Barat, Kecamatan Lore Selatan dan Kecamatan Lore Tengah ini merupakan daerah pegunungan cukup dingin. Keadaan tersebutlah yang menjadi pendukung berkembangnya schisto.
Masyarakat yang awam terhadap schisto, memberikan fakta bahwa begitu berbahanya siput tersebut begi mereka. Selama ini sosialisasi mengenai schisto sudah sangat dilakukan. Akan tetapi dari hasil wawancara yang kami lakukan, mereka belum tau betul akan cacing tersebut.
Schistosomiasis sendiri merupakan hewan yang menginfeksi manusia melalui kulit. Dalam hal  ini, cacing tersebut akan masuk ke dalam pori-pori kulit. Bersama aliran darah, cacing tersebut menuju jantung dan hati. Di hati manusialah cacing itu hidup dan berkembang, sampai membuat si penderita kurus, lemah, dan akhirnya meninggal. 
Saat seseorang terinfeksi oleh schisto, maka kemungkinan besar penduduk lain terinfeksi juga besar. Caranya bagaimana? Mari kita lihat, saat seseorang positif terinfeksi, maka cacing tersebut hidup dan mengerogoti tibuh  si penderita. Saat si penderita membuang kotoran (vases), maka telur dan cacing tersebut berada di dalam vases si penderita. Kehidupan masyarakat yang belum menerapkan sanitasi pembuangan yang baik, dapat mendukung penularan cacing tersebut. Tanpa sadar, seseorang menginjak kotoran tersebut, maka orang itu sudah bisa dipastikan akan terinfeksi. Belum lagi, banyak masyarakat yang buang hajat di sungai. Sementara sungai sangat umum digunakan untuk mandi dan mencuci oleh masyarakat desa. Maka, akan semakin besar kemungkinan masyarakat tertular cacing tersebut.
Tidak hanya itu, dari binatang juga dapat menyebabkan manusia tertular. Binatang yang terinfeksi schisto, jika buang kotoran dan kotoran itu terinjak oleh masyarakat tanpa menggunakan alas kaki, maka kemungkinan besar masyarakat itu akan terinfeksi. Dari pengamatan, bahwa masyarakat Bada yang didominasi oleh umat kristiani memelihara babi di rumah mereka. Babi-babi peliharaan tersebut dibiarkan berkeliaran begitu saja. Dan sudah bisa dibayangkan apa yang akan terjadi jika babi-babi tersebut terlah memiliki schisto di tubuhnya.